Berita

Simulasi
Investasi

Letter from CEO: Menyambut 2021

Letter from CEO: Menyambut 2021

Memasuki bulan terakhir 2020, investor pasar modal terus berbahagia dengan meningkatnya harga saham dan obligasi. Investor menyambut baik pemulihan perekonomian ke depan terutama setelah berbagai berita keberhasilan uji vaksin Covid-19 di dunia. Indonesia sendiri di awal bulan ini mulai menerima paket vaksin Sinovac tahap awal sebesar 1,2 juta dosis yang akan digunakan dalam beberapa minggu ke depan setelah mendapatkan persetujuan Badan Pengendalian Obat dan Makanan. Dalam paparan commentary kami di bulan April, faktor terbesar dari memburuknya perekonomian di tahun ini tentunya pandemi Covid-19.

Ini berarti pengendalian jumlah kasus, stimulus ekonomi dan pelaksanaan vaksinasi adalah fokus utama Pemerintah sebelum kembali ke kondisi ideal. Pemerintah sendiri sudah mengeluarkan berbagai kebijakan dan stimulus untuk menghindari pemburukan ekonomi yang lebih jauh akibat pandemi ini. Stimulus fiskal dianggarkan sebesar Rp. 695 triliun dan fokus pemerintah adalah pada penanganan pandemi, bantuan sosial dan berbagai insentif untuk menyelamatkan dunia usaha terutama sektor UMKM. Bank Indonesia sendiri menurunkan suku bunga 5x kali menjadi 3.75% disertai beberapa relaksasi kredit.

Setelah PDB turun 5,3% year on year di kuartal 2, mulai bangkit di kuartal 3 dengan kontraksi yang lebih rendah di 3,4% year on year. Dengan kata lain di kuartal 3 tersebut terdapat pertumbuhan ekonomi positif. Beberapa leading indicators termasuk volume kendaraan (> 40k per bulan), semen (>6jt ton) dan Manufacturing PMI (>50) sudah mulai mengalami kenaikan di dua bulan terakhir. Inflasi masih terjaga dan Rupiah pun masih kuat. IHSG meningkat 42.5% dan Bindo meningkat 17.6% dari titik terendah di bulan Maret. Selain penangangan kasus, pemerintah berhasil mengeluarkan UU Omnibus Cipta Kerja yang sangat ditunggu untuk meningkatkan investasi global ke Indonesia. UU ini juga menjadi landasan pembentukan Sovereign Wealth Fund yang akan menjadi sumber pembiayaan alternatif untuk mendukung pembangunan infrastruktur di Indonesia.

Dari sisi kasus Covid, sayangnya belum terdapat tanda-tanda membaik. Penularan masih terus terjadi. 1 dan 3 bulan terakhir kasus aktif naik 60.8% dan 72.2%. Ini tentunya memicu spekulasi akankah ada pembatasan yang lebih ketat lagi sehingga aktivitas ekonomi kembali direm. Di titik ini kami berpendapat, pemerintah akan tetap melakukan pengelolaan pandemi dengan tidak melakukan pembatasan mutlak melainkan melalui pembatasan skala tertentu. Berdasarkan faktor di atas tentunya kenaikan harga saham ke depan memiliki basis yang kuat. Melihat Bloomberg Estimates, IHSG diperkirakan mencapai 6,700 di akhir 2021 atau naik 10% dari posisi 6,100 dengan asumsi pertumbuhan EPS 12,9% dan multiple 17x. Angka pertumbuhan ini adalah angka yang cukup potensial mengingat pertunbuhan EPS yang negatif selama 2 tahun terakhir ini atau low base. Pemulihan ekonomi global di tahun 2021 memang saat ini menjadi konsensus berbagai lembaga dunia. Secara valuasi memang investor sudah menunjukkan sikap optimime yang cukup besar bahkan sebelum adanya earning release dari emiten, namun ini didukung adanya berbagai stimulus ekstra yang tidak didapat di tahun sebelumnya.

Bagaimana dengan tingkat return obligasi? Saat ini obligasi pemerintah berada pada tingkat 6,0%, kurang lebih lebih rendah 100bps dari posisi awal tahun dan merupakan titik terendah dalam 5 tahun terakhir. Estimasi return investor obligasi pemerintah tahun ini adalah 13,5% (gross). Kenaikan obligasi tentunya didukung oleh pembelian Bank Indonesia, inflasi yang terjaga dan penurunan suku bunga. Kinerja ini tentunya akan cukup sulit terulangi bila melihat sisi historikal namun potensi double digit return (yield turun minimal 100bps) tentunya akan tergantung daya tarik yield di Indonesia dibandingkan negara lainnya, daya tarik Rupiah dan kelanjutan stimulus di seluruh dunia.

Dalam konteks negara BBB, yield Indonesia saat ini masih cukup menarik. Dari sisi mata uang, upside Rupiah tertolong potensi pelemahan USD di 2021, dan pencairan stimulus yang masih terus terjadi terutama di negara maju akan mendorong pencarian yield di negara berkembang walau dalam skala yang lebih rendah. Perkiraan dasar kami, total return investasi di obligasi akan dikontribusikan lebih banyak oleh tinngkat imbal hasil yang stabil di 6%, dengan probabilitas potensi capital gain yang cukup tinggi. 

Selamat Tahun Baru 2021 dan tetaplah berinvestasi.

Salam, Marsangap P. Tamba

30 Desember 2020
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER